Kamis, 22 November 2018

INOVASI SINTAKS CTL DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF

Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

            Model Pembelajaran CTL menurut Sanjaya (2006) menyatakan bahwa belajar dalam CTL bukan hanya sekadar duduk, mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung. Lebih jauh ia mengupas bahwa Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajarinya dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga siswa didorong untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Sedangkan Blanchard (Trianto, 2007) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya
            Sementara Trianto (2007) berpendapat pula mengenai CTL adalah pembelajaran yang terjadi apabila siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah dunia nyata yang berhubungan dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga dan warga masyarakat. Sejalan dengan hal di atas, Muslich (2007) menjelaskan bahwa landasan filosofi CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal tetapi mengkonstruksi atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta yang mereka alami dalam kehidupannya. Dengan mengacu pada beberapa pendapat di atas, pembelajaran CTL merupakan suatu konsep pembelajaran yang mengaitkan antara materi pelajaran yang dipelajari siswa dengan konteks di mana materi tersebut digunakan dengan menggunakan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Materi pelajaran akan bermakna bagi siswa jika mereka mempelajari materi tersebut melalui konteks kehidupan mereka.
            Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL), menawarkan bentuk pembelajaran yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. CTL merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi yang dipelajarinya dan menghubungkan serta menerapkannya dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, peran siswa dalam pembelajaran CTL adalah sebagai subjek pembelajar yang menemukan dan membangun sendiri konsep-konsep yang dipelajarinya. Belajar bukanlah menghafal dan mengingat fakta-fakta, tetapi belajar adalah upaya untuk mengoptimalkan potensi siswa baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Komponen Utama Model Pembelajaran Kontekstual (CTL)

            Menurut Trianto (2014) pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu, Constructivism (konstruktivisme), Inquiry (menemukan), Questioning (bertanya), Learning Community (masyarakat belajar), Modeling (pemodelan), Reflection (refleksi) dan Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya).

1.          Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivistik merupakan landasan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dalam kontruktivistik, strategi lebih diutamakan dibanding seberapa banyak peserta didik memperoleh dan mengingat pengetahuan. Dalam kontruktivis, lebih diutamakan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara:
  • Menjadikan pengetahuan bermakna bagi siswa
  • Memberikan kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
  • Menyadarkan siswa menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
      2.    Pemodelan (Modelling)

            Dalam suatu pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru siswa, misalnya cara mengoperasikan suatu mesin, guru mendatangkan ahlinya kesekolah agar peserta didik dapat menirunya dan lain sebagainya. Pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dirancang dengan melibatkan siswa. Model juga dapat didatangkan dari luar yang ahli dibidangnya.

3.          Bertanya (Questioning)

            Bertanya adalah induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan dan aspek penting dari pembelajaran. Guru menggunakan Questioning (bertanya) untuk menuntun siswa berpikir bukannya penjejalan berbagai informasi penting yang harus dipelajari siswa. Bertanya digunakan sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Inti dari penerapan bertanya (questioning):
  • Mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu
  • Mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi
  • Melatih siswa untuk berpikir kritis
4.   Menemukan (Inquiry)

            Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Guru harus merancang suatu pembelajaran dalam bentuk kegiatan nememukan (inquiri) dalam bentuk apapun materinya yang diajarkan. Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Siklus inquiry:
  • Observasi (Observation)
  • Bertanya (Questioning)
  •  Mengajukan dugaan (Hipotesis)
  •  Pengumpulan data (Data gathering)
  •  Penyimpulan (Conclussion)
5.   Masyarakat Belajar (Learning Community)
            Masyarakat belajar artinya bahwa seseorang kaya dengan pengetahuan dan pengalaman tatkala mereka banyak belajar dari orang lain, dalam masyarakat belajar hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerja sama dengan orang lain dengan sharring antar teman, antar kelompok dan mereka yang tahu ke yang belum tahu.Masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan maupun bakat dan minatnya. Praktik dalam pembelajaran ”masyarakat belajar” terwujud dalam:
  • Pembentukan kelompok kecil
  • Pembentukan kelompok besar
  • Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, budayawan, petani, perawat, polisi, dll)
  • Bekerja dengan kelas sederajat
  • Bekerja kelompok dengan kelas yang diatasnya
  • Bekerja dengan masyarakat
6. Refleksi (Reflection)

            Refleksi merupakan guru/pelajar menghubungkan antara pengetahuan peserta didik yang telah dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru diterima. Pada akhir pembelajaran, pembelajar menyisakan waktu sejenak agar peserta didik melakukan refleksi, berupa pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari ini, catatan atau jurnal dari buku peserta didik , kesan dan saran peserta didik mengenai pembelajaran hari itu.

7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)

            Prosedur penilaian otentik adalah menunjukkan kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) peserta didik secara nyata penekanan penilaian otentik adalah pada penilaian yang tidak hanya mengacu pada hasil akan tetapi penilaian pada proses, bagaimana peserta didik memperoleh dan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Kemampuan berpikir kreatif

Munandar (2012) berpendapat untuk mengetahui tingkat kekreatifan seseorang, perlu adanya penilaian terhadap kemampuan berpikir kreatif. Berikut indikator penilaian berpikir kreatif beserta perilakunya.
1. Berpikir lancar (Fluency)
  • Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan
  • Arus pemikiran lancar
2. Berpikir luwes (flexibility)
  • Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam
  • Mampu mengubah cara atau pendekatan
  • Arah pemikiran yang berbeda
3. Berpikir orisinil (Originality)
  • Meberikan jawaban yang tidak lazim
  • Memberkan jawaban yang lain dari pada yang lain
  • Memberikan jawaban yang jarang diberikan kebanyakan orang
4. Berpikir terperinci (elaboration)

  • Mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan
  • Memperinci detail-detail
  • Memperluas suatu gagasan
            Johnson (2014:214-215) menyatakan berpikir kreatif adalah sebuah kebiasaan dari pikiran yang dilatih dengan memperhatikan intuisi, menghidupkan imajinasi, mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan baru, membuka sudut pandang yang menakjubkan, dan membangkitkan ide-ide yang tidak terduga. Berpikir kreatif yang membutuhkan aktivitas mental seperti:

1.    Mengajukan pertanyaan.
2.    Mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan pikiran terbuka.
3.    Membangun keterkaitan, khususnya diantara hal-hal yang berbeda.
4.    Menghubung-hubungkan berbagai hal dengan bebas.
5.    Menerapkan imajinasi pada setiap situasi untuk menghasilkan hal baru dan berbeda.
6.    Mendengarkan intuisi.
            Idris (2015:50) menjelaskan, biasanya anak yang kreatif selalu ingin tahu, memiliki minat yang luas dan menyukai kegemaran dengan aktivitas yang kreatif. Mereka biasanya cukup mandiri dan memiliki rasa percaya diri, lebih berani mengambil resiko (tetapi dengan perhitungan) dari pada anak-anak pada umumnya. 
            Indikator berpikir kreatif E. Paul Torrance dalam Davis (2012:359) mendeskripsikan kemampuan kreatif :
  1. Fluency adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak ide verbal non verbal dalam merespon masalah yang tidak memiliki satu jawaban benar.
  2. Flexibility adalah kemampuan untuk mengambil pendekatan berbeda untuk suatu masalah, memikirkan ide dalam kategori berbeda, atau melihat masalah dalam perspektif berbeda.
  3. Originality itu berarti keunikan, ketidaksamaan dalam pemikiran dan tindakan atau cara berpikir yang unik.
  4. Elaborasi adalah kemampuan untuk mengembangkan, memperhalus, menyempurnakan, dan bahkan menerapkan ide.
  5. Transformasi berarti kreativitas, merubah satu ide atau objek lain dengan melakukan modifikasi, mengkombinasi, atau dengan melihat makna baru, dampak, penerapan, atau adaptasi ke pengguna baru.
           
           
Sintaks Inovasi Model Pembelajaran CTL

No
Sintaks  model CTL Konvensional
Sintaks CTL Hasil modifikasi
(Inovasi)
Indikator berpikir kreatif
Dampak Inovasi Sintaks terhadap Kemampuan berpikir kreatif
1
KONSTRUKTIVISME
KONSTRUKTIVISME
Dengan  menambahkan kegiatan :
·  Menggali pengetahuan siswa mengenai materi sebelumnya dan kaitannya dengan materi sekarang melalui fenomena yang sering ditemui dalam kehidupan
·  Memberikan kesempatan siswa untuk menyampaikan bagaimana persepsinya mengenai materi sebelumnya dan kaitannya dengan materi sekarang melalui fenomena yang sering ditemui dalam kehidupan
Diharapkan akan mampu memunculkan banyak ide/pendapat/persepsi yang beragam dari siswa dalam memandang suatu fenomena didalam kehidupan sehari-hari
Mengkondisikan siswa
Mengkondisikan siswa untuk fokus dalam mengikuti kegiatan belajar yang akan dilakukan
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang akan dicapai
Menyampaikan tujuan dan kompetensi yang akan dicapai
Memberikan motivasi
Memberikan motivasi dalam pembelajaran berupa manfaat materi yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari yakni faktor yang mempengaruhi laju reaksi
Menggali pengetahuan prasyarat(pengetahuan awal) yang dimiliki siswa
Menggali pengetahuan siswa mengenai materi sebelumnya dan kaitannya dengan materi sekarang melalui fenomena yang sering ditemui dalam kehidupan mengenai sifat-sifat koloid
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes (flexcibility)
Memberikan kesempatan siswa untuk menyampaikan bagaimana persepsinya mengenai materi sebelumnya dan kaitannya dengan materi sekarang melalui fenomena yang sering ditemui dalam kehidupan mengenai sifat-sifat koloid
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara lancar(fluency)
2
PEMODELAN (MODELLING)
PEMODELAN (MODELLING)
Mengarahkan siswa untuk membentuk kelompok
Guru membuat kertas undian (yang telah dipersiapkan sebelumnya)yang akan dipilih siswa dalam membentuk kelompok inti dan kelompok materi sehingga bisa saling tutor sebaya
Dengan  menambahkan kegiatan :
·   Guru membuat kertas undian (yang telah dipersiapkan sebelumnya)yang akan dipilih siswa dalam membentuk kelompok sehingga anggota kelompok sebaran kemampuannya heterogen
·   Menginstruksikan siswa untuk menelaah media/video/fenomena dikehidupan serta menuliskan kaitannya dengan  materi
Diharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan elaborasi (melihat secara detail), berpikir lancar dan luwes
Menyajikan media/video/fenomena dikehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi dan selanjutnya mengajukan pertanyaan
Menyajikan media/video/fenomena dikehidupan sehari-hari yang berkaitan serta melakukan praktikum sederhana dengan materi sifat-sifat koloid dan selanjutnya mengajukan pertanyaan
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes (flexcibility)dan lancar
Menginstruksikan siswa untuk menelaah media/video/
fenomena dikehidupan serta   praktikum sederhana yang telah dilakukan kemudian   menuliskan kaitannya dengan  materi sifat-sifat koloid
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes, lancar, dan berelaborasi
3
BERTANYA (QUESTIONING)
BERTANYA (QUESTIONING)
Membimbing siswa melakukan tanya jawab/diskusi
Membimbing siswa melakukan tanya jawab/diskusi bahkan observasi
Memungkinkan siswa untuk memperlluas gagasan (elaborasi)
Dengan  menambahkan kegiatan :
·  Menginstruksikan anggota individual yang nantinya akan diakumulasi dengan anggota kelompok menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan media/video/
·  Fenomena yang ditampilkan sebelumnya dan kaitannya dengan materi faktor yang mempengaruhi laju reaksi
·  Menginstruksikan siswa untuk menelaah masalah yang akan dicari solusinya dalam kaitannya dengan materi faktor yang mempengaruhi laju reaksi
·  Menginstruksikan siswa mengenai prosedur dalam pembelajaran kemudian membimbing siswa secara intens dalam bertanya
Dengan menambahkan kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan daya pikir dan cipta gagasan siswa yang lebih baik dan lebih terarah
Menginstruksikan anggota materi yang nantinya akan diakumulasi dengan anggota inti menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan media/video/
Fenomena yang ditampilkan serta prsktikum sederhana yang dilakukan sebelumnya dan kaitannya dengan materi sifat-sifat koloid
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes, lancar, dan berelaborasi
Menginstruksikan siswa untuk menelaah masalah yang akan dicari solusinya dalam kaitannya dengan materi sifat-sifat koloid
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara mendetail (elaborasi), memberikan hasil telaah yang orisinil
Menginstruksikan siswa mengenai prosedur dalam pembelajaran kemudian membimbing siswa secara intens dalam bertanya
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes, lancar, dan berelaborasi
4
MENEMUKAN (INQUIRY)
MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY)
Membimbing siswa untuk mencari tahu sendiri materi pembelajaran dari berbagai sumber
Menginstruksikan siswa untuk mencari kemungkinan masalah dan pemecahannya secara bersama-sama (antar anggota  1 kelompok/anggota kelompok 1 dan kelompok lain)
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara mendetail (elaborasi), memberikan hasil telaah yang orisinil
Dengan  menambahkan kegiatan :
·   Menginstruksikan siswa untuk mencari kemungkinan masalah dan pemecahannya secara bersama-sama (antar anggota  1 kelompok/anggota kelompok 1 dan kelompok lain
·   Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi pendukung dari berbagai sumber-literatur (literasi) dan saling berbagi informasi tersebut satu sama   lain(sharing)
Diharapkan siswa dapat berbagi gagasan orisinil yang didukung dengan lieratur yang relevan serta mendetail satu sama liannya
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi pendukung dari berbagai sumber-literatur (literasi) dan saling berbagi informasi tersebut satu sama lain(sharing)
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes, lancar, dan berelaborasi
5
MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY)
MENEMUKAN (INQUIRY)
Membantu siswa mengatasi permasalahan yang diberikan
Siswa dibimbing oleh guru untuk menemukan pemecahan masalah yang dirasa paling tepat yang berkaitan dengan materi sifat-sifat koloid dan fenomena yang ditelaah berdasarkan hasil praktikum sederhana yang telah dilakukan.
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara mendetail (elaborasi), memberikan hasil telaah yang orisinil
Dengan  menambahkan kegiatan :
·  Siswa dibimbing oleh guru untuk menemukan pemecahan masalah yang dirasa paling tepat yang berkaitan dengan materi faktor yang mempengaruhi laju reaksi dan fenomena yang ditelaah berdasarkan hasil pemodelan (langkah pemodelan)
·  Menginstruksikan siswa untuk memberikan pemecahan masalah yang baru/belum ada sebelumnya/memodifikasi tnetunya  relevan dengan materi faktor yang mempengaruhi laju reaksi
·  Memberikan siswa kesempatan untuk meninjau kembali relevansi pemecahan masalah hasil temuan
Diharapkan siswa dapat memunculkan gagasan/pemecahan gagasan baru hasil pemikiran secaram nedetail yang relevan dan belum ditemukan  sebelumnya
Memberikan kesempatan tanya jawab seputar hasil diskusi
Menginstruksikan siswa untuk memberikan pemecahan masalah yang baru/belum ada sebelumnya/memodifikasi tnetunya  relevan dengan materi sifat-sifat koloid
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara orisinil, luwes lancar, serta mendetail (elaborasi),
Memberikan siswa kesempatan untuk meninjau kembali relevansi pemecahan masalah hasil temuan
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes atau dapat menghasilkan pendapat yang relevan dengan masalah/materi
6.
REFLEKSI (REFLECTION)
REFLEKSI (REFLECTION)
Memberikan penguatan
Memberikan permasalahan yang bertolak belakang dengan kemungkinan pemecahan masalah yang dipaparkan siswa agar siswa lebih berpikir kritis
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes atau dapat menghasilkan pendapat yang relevan dengan masalah/materi, gagasan yang beragam, orisinil, dan mampu mengubah arah pemikiran secara berbeda
Dengan  menambahkan kegiatan :
Memberikan permasalahan yang bertolak belakang dengan kemungkinan pemecahan masalah yang dipaparkan siswa
Memberikan kesempatan siswa untuk berdiskusi mendalam mengenai pemecahan masalah dan permasalahan baru yang bertolak belakang
·  
·
Diharapkan siswa dapat secara maksimal memanfaatkan kemampuan berpikir yang dimiliki secara kreatif
Memberikan kesempatan siswa untuk berdiskusi mendalam mengenai pemecahan masalah dan permasalahan baru yang bertolak belakang
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara mendetail (elaborasi), memberikan hasil telaah yang orisinil
Membimbing siswa untuk membuat ringkasan
Membimbing siswa untuk membuat ringkasan
Memberikan siswa kesempatan untuk menuliskan persepsinya tentang materi sifat-sifat koloid yang telah didiskusikan, mulai dari permasalahan, pemecahan masalah, informasi pendukung
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara mendetail (elaborasi), memberikan hasil ringkasan yang orisinil
7
PENILAIAN YANG SEBENARNYA (AUTHENTIC  ASSESSMENT)
PENILAIAN YANG SEBENARNYA (AUTHENTIC  ASSESSMENT)
Membantu siswa menyimpulkan
Membantu siswa menyimpulkan berdasarkan hasil diskusi, dan penemuan
Dengan  menambahkan kegiatan :
·  Meluruskan miskonsepsi yang muncul pada saat diskusi
·  Memberikan tes akhir berupa tes essay
Diharapkan siswa yang tadinya tidak mengerti dan tidak memiliki gagasan kreatif dapat terasah, agar dapat berpikir secara luwes/terbuka, orisinil, dan lancar
Meluruskan miskonsepsi yang muncul pada saat diskusi
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes, lancar dan orisinil
Memberikan tes akhir
Memberikan tes akhir berupa tes essay
Siswa dalam kegiatan ini dapat berpikir secara luwes atau dapat menghasilkan pendapat  dan jawabn yang relevan dengan masalah/materi, gagasan yang beragam, orisinil, dan mampu mengubah arah pemikiran secara berbeda


PERTANYAAN :
1. Menurut anda, apakah inovasi yang saya buat dapat memenuhi tuntutan pembelajaran  pada masa yang akan datang?
2. Menurut anda, sudah cocokkah inovasi yang saya buat dengan indikator berpikir kreatif? berikan alasan.
3. Tolong berikan kritik dan saran atas inovasi yang saya lakukan pada model pembelajaran CTL ini!

Kamis, 15 November 2018

APLIKASI IOT DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Internet of Things atau IoT adalah sebuah konsep besar saat ini yang dinilai mampu merevolusi semua industri dan juga masyarakat. Bahkan dalam pendidikan pun Internet of Things ini menjadi salah satu teknologi yang saat ini dipertimbangkan oleh para pengajar maupun anggota pemerintah yang terkait dengan pendidikan untuk menggunakannya guna berinovasi dan meningkatkan pembelajaran.
                Dengan Internet ini, belajar menjadi lebih dinamis dengan cara mengintegrasikan metode tradisional dengan metode baru (IoT). Selain itu, dampak pembelajaran dengan IoT ini juga dinilai mampu menjadikan pelajaran di kelas serta diskusi antar siswa lebih hidup. Bahkan dengan IoT siswa juga akan mampu mengeksplorasi metode-metode belajar lainnya. Sebagai contoh, siswa dapat belajar dirumah dengan melihat video, terlibat dalam proyek kemudian mendiskusikan hasil belajar di luar kelas tersebut saat kembali ke sekolah. Selain itu, teknologi modern dan IoT tidak terbatas hanya pada bagaimana siswa belajar tapi juga dapat meningkatkan keamanan IoT sendiri serta akses  yang lebih luas untuk mendapatkan informasi. Selain itu juga dapat melacak sumber daya utama.
                Pengaruh IoT ini juga memiliki efek lebih jauh lagi bagi para pelajar. Dalam pendidikan tinggi misalnya universitas, sebagai mahasiswa mungkin saat ini telah bosan dengan menggunakan buku, kebanyakan dari mereka lebih suka dengan teknologi seperti smartphone, tablet, laptop dan gadget lainnya. Dengan IoT ini akses informasi yang mudah di akses dari mana pun dan kapan pun, akan membuat pelajar mampu mempelajari segala sesuatu yang baru. Bahkan akan mendorong para pelajar untuk mempelajari lebih lanjut lagi.
                Selain itu, IoT juga memberikan pekerjaan yang lebih efisien bagi para pengajar dan pelajar. Contohnya adalah, para pengajar mampu mengoptimalkan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh pelajar. Dengan menggunakan cloud, para pengajar juga mampu melihat hasil serta statistik masing-masing pelajar dengan informasi yang lebih cepat dengan cara mengumpulkan data hasil belajar. 
    
 Berikut merupakan inovasi yang saya coba buat dalam aplikasi trend IOT dalam pembelajaran kimia pada materi minyak bumi.



Pertanyaan diskusi :
1. Bagaimana Pendapat anda mengenai Video Pembelajaran yang telah saya buat? cukup layak kah bila disebut dengan salah  satu contoh aplikasi IOT dalam pembelajaran?
2. Menurut anda, apa yang perlu saya tambahkan maupun saya kurangi pada video pembelajaran yang telah saya buat? berikan alasan

Kamis, 08 November 2018

Tren Internet of Thing dalam Pembelajaran


Internet of Thing (IoT) atau M2M awalnya disarankan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999 dan mulai terkenal melalui Auto-ID Center di MIT. Pada prinsipnya Internet of Things adalah benda-benda yang ditempeli suatu alat sehingga saling terhubung. Yang dimaksud benda-benda di sini (things) adalah apa saja termasuk alat rumah tangga, kendaraan, bahkan hewan peliharaan yang ditempeli suatu alat. Dan alat yang dimaksud di sini bisa berupa sensor, perangkat lunak dan sambungan ke Internet.

Tapi mengapa mesti terhubung satu sama lainnya? Dengan membuatnya terhubung suatu alat dapat dimanfaatkan dengan lebih besar. Misalnya suatu CCTV yang bisa diakses melalui handphone di mana saja akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan CCTV yang hanya bisa dioperasikan di ruang tertentu. Dengan terhubungnya CCTV ke jaringan Internet, maka kita bisa membangun konsep smart city seperti yang dikembangkan di kota Jakarta.

IoT adalah konsep yang dirancang dengan tujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus dan dirancang memiliki kemampuan seperti untuk berbagi data dan remote control. IoT mengacu pada benda yang dapat diidentifikasi secara unik (memiliki ciri-ciri yang unik agar dapat dibedakan dengan benda-benda lain) sebagai representasi virtual dalam struktur berbasis internet. Sederhananya IoT adalah konsep yang dirancang dimana suatu objek berkemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer secara real-time. Sejauh ini konsep IoT erat kaitannya dengan komunikasi machine to machine (M2M) di bidang manufaktur, listrik, perminyakan, dan gas. Produk-produk yang dibangun dengan kemampuan komunikasi M2M sering disebut sebagai sistem cerdas (smart), contohnya adalah smart label, smart home, dan smart grid sensor.

Digagasnya Internet of Things (IoT) merupakan hasil dari pemikiran dan keadan dimana pada era sekarang, manusia dan komputer hampir tidak dapat dipisahkan dengan kebutuhan setiap manusia akan internet untuk mengakses segala informasi yang dibutuhkan sehari-hari mulai dari kebutuhan untuk pendidikan, bekerja, atau untuk kegiatan sosial. Dengan kebutuhan manusia yang semakin meningkat dan beragam dengan hadirnya internet maka data-data yang dibutuhkan pun semakin banyak dan teknologi pun dituntut untuk terus berkembang dan mudah untuk diakses sesuai dengan permintaan para pengguna. Sekarang ini IoT atau M2M semakin menjamur karena didorong oleh berbagai hal seperti bermunculannya komponen pendukung IoT (microchips, layanan cloud, GPS, dll), kebutuhan yang meningkat, keanekaragaman perangkat yang semakin meluas, solusi komunilasi M2M semakin mudah, dan kemajuan dunia software.

Cara kerja dari Internet of Things (IoT) yaitu dengan memanfaatkan sebuah argumentasi pemrograman dimana tiap perintah argumen akan menghasilkan sebuah interaksi antara sesama mesin yang terhubung secara otomatis dalam jarak berapa pun karena menggunakan internet sebagai penghubung antara kedua interaksi mesin tersebut dan manusia hanya mengatur dan mengawasi kinerja alat tersebut secara langsung. Dalam mengkonfigurasi IoT ini terdapat tantangan terbesar yaitu diharuskan menyusun jaringan komunikasi sendiri yang sangat kompleks sehingga diperlukan sistem keamanan yang sangat ketat karena rentan akan adanya hacker dengan data yang seluruhnya berada pada sistem serta diperlukan akses internet dan instalasi listrik yang baik karena sistem diharuskan dalam kondisi online secara terus-menerus.

Terdapat 3 karakteristik dan tren dari Internet of Things (IoT) yaitu :

1. Kecerdasan

Konsep asli dari IoT adalah kecerdasan intelejensi dan kontrol otomatis. Namun, hal ini masih memerlukan riset lebih lanjut agar di era mendatang IoT dapat menjadi jaringan terbuka dan semua perintah dilakukan otomatis, terorganisir, objek virtual dapat dioperasikan dengan mudah, independen sesuai dengan konteks atau situasi atau lingkungan.

2. Arsitektur

IoT memiliki arsitektur pada jaringan dan sistem yang kompleks serta keamanan yang ketat, apabila ketiga hal tersebut tercapai maka kontrol otomatis dalam IoT dapat berjalan baik dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Sehingga banyak perusahan yang akan mendapatkan profit (revenue) atas hadirnya teknologi IoT.

3. Faktor ukuran, waktu, dan ruang

Dalam pembangunan IoT, engineer harus memperhatikan faktor ukuran, waktu, dan ruang. Faktor waktu merupakan faktor yang biasanya menjadi kendala karena diperlukan waktu yang lama dalam menyusun jaringan kompleks dalam IoT yang tidak mudah ini dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.

Teknologi pengimplementasian Internet of Things (IoT) atau M2M adalah dalam pengidentifikasian suatu objek (benda, manusia, hewan, atau tumbuhan) secara virtual di dunia maya atau internet dan dikelola secara efisien dengan bantuan komputer yang dapat dilakukan dengan beberapa teknologi seperti :
1. Kode batang (barcode)
Kode batang atau barcode adalah adalah suatu kumpulan data optik yang dapat dibaca oleh alat scannernya. Kode batang pada awalnya digunakan untuk otomatisasi pemeriksaan barang di swalayan dan hingga saat ini kode batang (tipe UPC (Universal Price Codes)) kebanyakan masih digunakan untuk hal tersebut. Prinsip kerja kode batang sangatlah sederhana, yaitu ketika kode batang didekatkan pada scanner atau pemindainya, maka scannernya akan memancarkan cahaya dan mengidentifikasi informasi atau kode yang ada pada kode batang tersebut. Keuntungan menggunakan kode ini adalah proses input data lebih cepat, lebih tepat, dan lebih akurat mencari data, mengurangi biaya, serta peningkatan kinerja manajeman
2. Kode QR (QR code)
Kode QR adalah suatu kode batang dua dimensi yang dikembangkan oleh Denso Wave, salah satu divisi pada Denso Corporation yang merupakan perusahaan jepang. Sesuai namanya Kode QR (Quick Response) diciptakan untuk menyampaikan informasi dengan cepat dan mendapatkan respons yang cepat pula. Berbeda dengan kode batang, yang hanya menyimpan informasi secara horizontal, kode QR mampu menyimpan informasi secara horizontal dan vertikal, oleh karena itu secara otomatis Kode QR dapat menampung informasi yang lebih banyak daripada kode batang. Pada zaman sekarang ini kode QR banyak digunakan sebagai alat penaut fisik yang dapat menyimpan alamat dan URL, nomer telepon, teks dan sms yang dapat digunakan pada majalah, surat harian, iklan, pada tanda-tanda bus, kartu nama ataupun media lainnya. Atau dengan kata lain sebagai penghubung secara cepat konten daring (dalam jaringan/online) dan konten luring (luar jaringan/offline). Kehadiran kode ini memungkinkan semua orang berinteraksi dengan media yang ditempeli oleh kode QR, melalui ponsel secara efektif dan efisien. Semua orang juga dapat menghasilkan dan mencetak sendiri kode QR, sehingga orang lain dapat dengan mudah mengakses alamat URL ataupun segala informasi yang disimpan oleh kode QR tersebut.
3. Identifikasi frekuensi radio (RFID)
RFID merupakan salah satu teknologi implementasi dari Internet of Things. Secara singkatnya, RFID adalah sebuah metode identifikasi secara otomatis dengan menggunakan suatu piranti yang disebut RFID tag atau transponde. Pada zaman modern sekarang ini, RFID merupakan teknologi yang sudah umum (banyak digunakan), dikarenakan kegunaan dan efisiensinya dalam mendukung segala aktivitas kehidupan manusia. Baik pada sektor produksi, distribusi maupun konsumsi. Hal ini dikarenakan label atau kartu RFID adalah sebuah benda yang bisa dipasang atau dimasukkan di dalam sebuah produk, hewan atau bahkan manusia dengan tujuan untuk identifikasi menggunakan gelombang radio. Sehingga memudahkan penggunanya untuk mendata (mengetahui jumlah maupun keberadaan atau lokasi) barang yang dimilikinya tersebut. Prinsip kerja RFID sangatlah sederhana yaitu RFIDtag (label RFID) memuat informasi dalam bentuk elektronik dan ketika bertemu dengan RFIDreadernya, informasi itu akan dikirimkan ke RFIDreader dalam bentuk gelombang radio (makanya disebut Radio Frequensi Identifity). Sehingga benda tersebut dapat teridentifikasi oleh RFIDreadernya.

Salah satu contoh Aplikasi IOT dalam ruang kelas adalah sebagai berikut.
  • Berdasarkan jurnal Dhika (2017) mengenai Penerapan Internet Of Things dalam Ruang Kelas menjelaskan bahwa banyak sekali peralatan yang sebenarnya dapat dipasangkan pada kelas sebagai ruang belajar pada mahasiswa, salah satu diantaranya adalah hal umum yang sudah ada yakni whiteboard, infocus atau proyektor, thermometer suhu ruang, air conditioner (AC), meja belajar dan kursinya. Seluruh peralatan ini dapat dipasangkan dengan sensor dan dan dapat berguna untuk kegiatan pembelajaran didalam kelas. Alat umum yang biasanya digunakan oleh seorang pengajar dalam menyampakan bahan ajar melalui whiteboard atau papan tulis putih. Saat ini implementasi IoT pada papan tulis putih dapat dikembangan dengan berbagai cara dimana konsep konvensional, dosen atau pengajar menulis di whiteboard lalu mahasiswa mencatat apa yang telah ditulis. Tentunya hal ini membutuhkan waktu atau proses yang lebih lama sebelum IoT memasuki pola pembelajaran dikelas. Jika IoT diterapkan dalam whiteboard maka yang terjadi adalah papan tulis, jika ditulis oleh dosen, akan dapat langsung memancarkan gelombang wifi yang akan tampil langsung hasilnya pada laptop mahasiswa atau pada handphone mahasiswa, tentunya tidak perlu mencatat ulang apa yang telah di tulis atau disampaikan oleh dosen. Seluruh percakapan tentang materi pembelajaran akan terekam dalam whiteboard dan dikemas dalam data serta akan terkirim melalui wifi atau internet dalam kelas ke handphone mahasiswa. Hal ini tentunya sangat memudahkan mahasiswa dan pengajar jika lupa atau perlu mempelajari kembali apa yang telah diajarkan atau disampaikan oleh dosen maka akan mudah mengingat hanya dengan melihat kembali materi atau video yang disampaikan.
  • Dunia pendidikan Indonesia mendapatkan angin segar dengan dimulainya penerapan Internet Of Things dan ekosistem digital dalam mendukung peningkatan pendidikan bangsa. Inisiatif ini dilakukan Indosat Ooredoo yang melakukan kemitraan dengan Hasri Ainun Habibie ORBIT Foundation dan CREATE Foundation. Penerapan Internet Of Things dilakukan dengan implementasi platform CREATE CyberSchool With IoT (Internet of Things) berbasis cloud di 65 sekolah percontohan yang tersebar di lima wilayah Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku – Papua. Adapun CREATE CyberSchool With IoT (Internet of Things) merupakan platform belajar berbasis cloud yang dikembangkan CREATE Foundation untuk memberikan sebuah sarana pembelajaran yang berkualitas bagi setiap siswa di seluruh Indonesia di manapun mereka berada dengan memanfaatkan teknologi digital. IoT (Internet of Things) merupakan fenomena baru pada abad 2I, dan penerapan Internet Of Things ini nantinya akan mengubah pola interaksi, komunikasi dan pendidikan di masyarakat luas.

Keuntungan atau manfaat dari Internet of Things (IoT) adalah : 
  1. Pekerjaan yang kita lakukan menjadi cepat, mudah, dan efisien. 
  2. Dapat mendeteksi pengguna dimanapun berada. 
  3. Informasi yang diberikan kepada pengguna merupakan informasi yang real-time atau pada waktu yang sebenarnya. 
  4. Layanan cloud memungkinkan koneksi ke seluruh client tidak terbatas. 
  5. Proses monitoring akan aspek-aspek yang dituju menjadi lebih mudah, otomatis, dan semakin pintar. 
  6. Proses monitoring dapat dilakukan secara otomatis tanpa mengenal jarak karena berbasis internet. 
  7. Dapat mendeteksi dengan cepat mengenai adanya anomali data, akses, atau keadaan yang terjadi sebagai penyebab kebocoran data. 
Kerugian dari Internet of Things (IoT) adalah :
  1. Keamanan perangkat berbasis IoT rentan akan peretasan karena banyak perangkat yang tidak terenkripsi atau enkripsinya tidak memadai. 
  2. Privasi data dari para pengguna menjadi masalah karena seluruh data disimpan dalam satu server yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja oleh siapa saja yang memiliki kemampuan untuk mengakses jaringan baik pengguna maupun bukan pengguna jaringan yang sebenarnya. 
  3. Otoritasi tidak memadai. 
  4. Web interface tidak cukup aman dan proteksi software kurang mencukupi. 
  5. Membutuhkan kapasitas penyimpanan data yang besar.
Permasalahaan yang muncul :
Menururt anda, hambatan terbesar apa yang nantinya akan muncul di era IoT jika di terapkan di Indonesia? dan Bagaimana solusi untuk mengatasinya ? 

Kamis, 01 November 2018

DESAIN SEMANTIC NETWORKING(SEMANTIC WEB) PADA PROSES PEMBELAJARAN

Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna / arti yang terkandung dalam bahasa, kode, atau jenis lain dari representasi. Dengan kata lain, semantik adalah studi tentang makna. Semantik biasanya berhubungan dengan dua aspek lain: sintaks, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, dan pragmatis, penggunaan praktis simbol oleh rakyat dalam konteks tertentu.
     Linguistik Semantik adalah studi tentang makna yang digunakan untuk memahami ekspresi manusia melalui bahasa. Bentuk lain dari semantik termasuk semantik bahasa pemrograman, logika formal, dan semiotika.
      Kata semantik sendiri menunjukkan berbagai ide – yang populer sangat teknis. Hal ini sering digunakan dalam bahasa sehari-hari untuk menunjukkan pemahaman tentang isu-isu yang datang dengan pilihan kata atau konotasi. Pemahaman tentang masalah telah menjadi subyek dari banyak pertanyaan formal, dalam jangka panjang, khususnya di bidang semantik formal.
     Pengertian Semantic networking/ Web  adalah pengembangan dari World Wide Web di mana makna semantik dari informasi di web didefinisikan, sehingga memungkinkan mesin untuk memprosesnya. Semantic Web berasal dari World Wide Web Konsorsium dari Web sebagai media universal data, informasi, dan pertukaran pengetahuan.

   Semantic Web terdiri dari seperangkat prinsip-prinsip desain, kelompok kerja kolaboratif, dan berbagai teknologi. Beberapa elemen dari Semantic Web yang dinyatakan sebagai calon masa depan dan unsur-unsur lain dari Semantic Web disajikan dalam spesifikasi formal dimaksudkan untuk memberikan deskripsi formal konsep, istilah, dan hubungan dalam satu domain tertentu.

  Istilah Web Semantik itu sendiri diperkenalkan oleh Tim Berners-Lee, penemu World Wide Web. Sekarang, prinsip web semantik disebut-sebut akan muncul pada Web 3.0, generasi ketiga dari World Wide Web. Bahkan Web 3.0 itu sendiri sering disamakan dengan Web Semantik. Web Semantik menggunakan XML, XMLS (XML Schema), RDF, RDFS (Resources Description Framework Schema) dan OWL.
    Web Semantik merujuk kepada kemampuan aplikasi komputer untuk lebih memahami bahasa manusia, bukan hanya bahasa yang baku dari para penggunanya tetapi juga bahasa yang lebih kompleks, seperti dalam bahasa percakapan sehingga memudahkan penggunanya untuk berkomunikasi dengan mesin. Web Semantik dapat mengolah bahasa dan mengenali homonim, sinonim, atau atribut yang berbeda pada suatu database.

        Pada saat ini, semantic networking/web digunakan juga dalam ilmu pengetahuan sebagai titik tolak dalam perkembangan web science dan inovasi AI. semantik networking ini layaknya istem kerja syaraf otak yang selalu beproses (stimulus-respons), maka dari itu dalam proses pembelajaran semantik network ini sangat penting terutama pada saat AI ini mulai gencar disosialisasikan.

        Masyarakat pada umumnya dapat mengakses berbagai informasi yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dengan lebih efektif dan efisien. web science ini lebih menekankan dalam proses penyajian data yang berhubungan dengan penyajian internet sehingga kita semua dapat mengambil sisi positif dari berbagai perkembangan teknologi yang ada dan memanfaatkannya atau bahkan mengembangkannya dengan sebaik-baiknya.
Berikut merupakan kegunaan Web Science di dunia pendidikan:
  1. Library
Library atau perpustakaan ditujukan untuk menyediakan berbagai macam buku, makalah, karya tulis dlll yang dibutuhkan user serta dapat memberikan informasi untuk membantu menyelesaikan tugas.
  1. Media pembelajaran dilluar kelas
Kegiatan belajar mengajar tidak hanya dapat dilakukan dengan bertatap muka secara langsung, namun dapat juga dilakukan secara virtual melalui internet, sehingga tidak perlu melakukan pertemuan disuatu tempat untuk melakukan pembelajaran layak nya pembelajaran dikelas. Contoh aplikasinya adalah V-Class.
  1. Jurnal-jurnal terbaru menyangkut perkembangan IPTEK
Disini kita dapat dengan mudah mencari informasi update tentang perkembangan IPTEK dalam dunia pendidikan dalam negri ataupun perkembangan yang berasal dari negara lain melalui jurnal-jurnal terbaru.
  1. Media berkomunikasi dengan para kompeten dibidang IPTEK
Dengan adanya web science kita tidak mengenal lagi belajar dengan batasan tempat dan waktu, kita dapat berkomunikasi dengan para kompeten kapanpun dan dimanapun tanpa bertatap muka secara langsung. Kita dapat mendapatkan informasi dibidang IPTEK dengan langsung melakukan percakapan dengan para ahli.

SEMANTIC NETWORKING/WEB DALAM PEMBELAJARAN

    Semantic networking/web memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran, terutama kimia, siswa dituntut untuk dapat mengaitkan fenomena-fenomena yang terjadi disekitarnya dengan materi pembelajaran yang harus mereka pelajari. Namun, menuntut siswa saja untuk cakap ber'semantik" tidaklah benar, maka dari itu peran guru sangat besar dalam hal ini, Guru diharapkan mampu bekerja secara profesional agar siswa dapat berpikir layaknya semantik networking/web yang ada dikomputer /AI. Guru pada saat ini dan dengan kemajuan teknologi ke depannya harus mampu membuat produk pembelajaran atau mendesain pembelajaran yang unlimited (baik ruang, waktu, informasi) tetapi tetap relevan dan sesuai apa yang dibutuhkan oleh guru tersebut dimanapun ia ditempatkan.
         
        Dengan adanya desain pembelajaran berbasis semantik networking/web maka, diharapkan siswa-siswa yang diajarkan dapat berpikir secara HOTS dan dapat mengimplikasikan apa yang sudah dipelajari melalui materi terutama kimia kedalam kehidupan nyata atau sehari-harinya.

berikut adalah contoh desain semantic networking/web yang saya coba kembangkan pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit :



PERTANYAAN:
1. Bagaimana pendapat anda mengenai semantic networking yang saya buat?
2.Tolong berikan koreksi pada hasil desain semantic networking/web yang saya kembangkan(sebutkan kelemahannya)
3. Menurut anda, melihat kondisi dan situasi saat ini, bisakah kita sebagai guru mengembangkan cara berpikir siswa menjadi layaknya semantic networkinh/web ini atau setidaknya mendekati. mengingat sebenarnya belajar  berbasis semantic ini sangat bagus untuk diterapkan? 

Kamis, 25 Oktober 2018

TREND ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM PEMBELAJARAN

       Kita tidak sadar bahwa perkembangan IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Sains) terjadi dengan cepat. Perkembangan IPTEKS tidak hanya terjadi di dunia industri, ekonomi, politik, lingkungan, akan tetapi juga telah merambah ke dunia pendidikan. Perkembangan IPTEKS yang diiringi dengan rasa tanggung jawab yang tinggi akan membawa kemanfaatan bagi semua orang yang menggunakan teknologi tersebut.
      Banyak manfaat yang dapat diambil dari perkembangan IPTEKS, salah satunya yakni dalam dunia pendidikan. Peran IPTEKS dalam dunia pendidikan diantaranya dapat memudahkan guru untuk
mengakses sumber belajar melalui internet. Meskipun begitu, hadirnya teknologi mutakhir dalam dunia pendidikan dirasa masih sangat minim ditemukan terutama di Indonesia.
         Salah satu teknologi mutakhir yang dapat diterapkan pada dunia pendidikan yakni teknologi artificial intelligence atau sering disebut sebagai kecerdasan buatan. AI (Artificial Intelligence) merupakan teknologi yang dapat digunakan manusia sebagai asisten bergerak layaknya robot namun keberadaannya berupa tampilan virtual dalam suatu sistem komputer. AI dapat diibaratkan sebagai otak suatu robot.

A. DEFINISI ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)

        Teknologi AI adalah salah satu bentuk kemajuan yang sangat pesat dari perkembangan IPTEKS di dunia. Teknologi AI masih sangat luas cakupannya sehingga pemanfaatannya jugabermacam-macam di berbagai bidang. Dunia pendidikan adalah salah satu bidang yang dapat mengadopsi adanya teknologi AI. Beberapa pendapat dikemukakan oleh para ahli tentang teknologi AI. Luckin et al., (2016, p. 14) berpendapat bahwa AI sebagai suatu sistem komputer yang dirancang untuk berinteraksi dengan dunia melalui kemampuan-kemampuan tertentu dan perilaku intelijen yang kita sadari seperti manusia pada umumnya. Hal tersebut dikuatkan oleh Colen (1997) yang menyatakan bahwa artificial intelligence merupakan teori yang mendasari tentang mekanisme suatu kecerdasan serta metode empirik untuk membangun dan menguji kemungkinan-kemungkinan model dalam mendukung suatu teori. Artificial intelligence adalah cara agar komputer mampu melakukan serangkaian tes berpikir yang dimiliki oleh manusia dan hewan (Millington & Funge, 2009, p. 7). Teknologi juga diadopsi dalam dunia permainan (game). 
      Berbeda dari pendapat-pendapat sebelumnya, Russel dan Norvig (2010, p. 2), membagi pengertian AI ke dalam empat kategori. Pertama, yakni thinking humanly, menyatakan bahwa teknologi AI merefleksikan pemikiran manusia dalam kegiatan-kegiatan sehari-hari seperti memecahkan masalah, pengambilan keputusan, dan tindakan lain. Kedua, acting humanly yang berarti bahwa AI adalah suatu mesin yang mampu menampilkan kegunaan dengan melibatkan kemampuan intelijen pada saat ditampilkan oleh manusia, serta mampu berbuat sesuatu saat ini yang memiliki kualitas lebih baik dari manusia. Ketiga, thinking rationally yang berarti bahwa AI mampu mengkoordinasikan kemampuan-kemampuan mental melalui komputasi model. Keempat, acting rationallymenunjukkan bahwa AI dirancang untuk menciptakan agen yang cerdas melalui penciptaan menggunakan sistem yang canggih. 
      Berdasarkan beberapa pendapat dari ahli-ahli tersebut, maka dapat ditarik sintesis bahwa teknologi AI merupakan teknologi yang menciptakan sebuah sistem dan memungkinkan komputer sebagai salah satu mediumnya dalam rangka melakukan proses interaksi dan memudahkan manusia dalam menjalankan kegiatan sehari-hari.
  Artificial intelligence memberikan kemudahan kepada manusia apabila keberadaannya dimaksimalkan untuk hal-hal positif. Haugeland (1996) berpendapat bahwa AI merupakan mind design yang artinya mencitpakan sistem yang mirip dengan cara kerja otak manusia. Beberapa landasan dalam penciptaan AI dijelaskan oleh Russel dan Norvig (2010, p. 5) sebagai berikut :

a). Filosofi
     Beberapa pendapat berspekulasi bahwa mesin mampu bertindak dengan kehendaknya sendiri. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh berbagai pihak tentang perkembangan pesat terhadap teknologi AI. Jangan sampai teknologi ini mengambil alih secara mutlak adanya manusia sebagai makhluk sosial dan khalifah di muka bumi ini.

b). Matematika
   Para filusuf dunia meyakini bahwa terdapat hal mendasar mengenai munculnya ide terhadap AI, namun lompatan terhadap sains diperlukan perumusan matematis yang tinggi, meliputi tiga hal fundamental, yakni: logika, komputasi, dan probabilitas. Artinya bahwa penemuan AI ini tidaklah lepas dari perhitungan-perhitungan ilmu matematis untuk membuat AI menjadi sebuah sistem yang bermanfaat bagi keperluan manusia. Pengembangan AI membutuhkan algoritma yang cukup rumit untuk dipelajari, sehingga ilmu matematika memberikan peran praktis terhadap pengembangan tekbologi AI di masa mendatang.

c). Ekonomi
    Banyak orang berpikir bahwa ekonomi adalah selalu tentang uang, namun para ekonom berpendapat bahwa mereka senantiasa mempelajari bagaimana orang-orang mengambil keputusan yang mengarahkan mereka pada hasil yang lebih menjanjikan. Pernyataan tersebut bermaksud memberikan penjelasan kepada semua orang bahwa untuk menghasilkan uang atau outcome yang menjanjikan, maka diperlukan usaha dan analisis yang kuat. Perkembangan ekonomi sedemikian rupa diprediksi akan memunculkan riset-riset lebih lanjut mengenai pengembangan AI dalam menganalisis, memonitor, serta berperan dalam pengambilan keputusan secara rasional.

d). Neurosains
     Neurosains merupakan cabang ilmu kesehatan yang mempelajari tentang sistem syaraf manusia, baik syaraf di seluruh tubuh maupun syaraf yang ada pada otak manusia. Pengembangan teknologi AI diprediksi akan mengadopsi perkembangan keilmuan tentang neurosains yang nantinya akan meningkatkan kinerja dan kualitas dari AI dalam berbagai bidang. Otak dan komputer digital adalah dua hal yang sangat berbeda, namun otak manusia jauh lebih canggih dari komputer manapun di dunia ini. Pernyataan tersebut bisa saja terbantahkan jika di masa mendatang dikembangkan teknologi AI yang mampu menyaingi otak manusia bahkan mengungguli otak manusia. Pengembangan teknologi AI ini harus dikaji secara ketat dan mendalam agar dampak negatif secara global dapat dicegah sejak dini.

e). Psikologi
      Beberapa riset yang telah dilakukan menunjukkan bahwa model komputer dapat digunakan untuk menuntun memori psikologi, bahasa, dan kemampuan berpikir logika secara berturutturut. Pernyataan tersebut memberikan indikasi bahwa teori kognitif seharusnya seperti sebuah program komputer yang di dalamnya mengandung berbagai mekanisme pemrosesan informasi dan beberapa fungsi kongitif dilibatkan di dalam proses tersebut. Hal inilah juga menjadi pertimbangan mendasar di dalam mengembangkan teknologi AI terutama dalam hal pemroses informasi dalam sistem otak manusia.

f). Teknik Komputer
  Hal yang diperlukan agar penerapan AI berjalan sukses ada dua, yakni inteligensi dan benda.Perkembangan komputer dari waktu ke waktu semakin canggih dengan indikasi meningkatnya kapasitas memori, kecepatan, serta akurasi data yang dihasilkan. AI juga dikendalikan oleh seberapa dalam dan canggih dari software yang ada pada sebuah komputer, yang menyuplai sistem operasi, bahasa pemrograman, serta alat-alat yang dibutuhkan untuk menciptakan suatu program. Semakin canggih komputer tersebut, maka program yang dihasilkan akan semakin baik, sehingga tingkat kecerdasan dari AI akan meningkat.

g). Teori kontrol dan masalah keamanan
     Suatu teknologi harus dikontrol dan dapat diawasi dengan baik. Keamanan yang ditanamkan pada teknologi tersebut juga harus aman sehingga tidak semua orang dapat mengakses dan mengoperasikannya. Kalkulus dan matrik aljabar adalah dua alat dalam teori kontrol. Melalui

B. PERAN AI DALAM PENDIDIKAN

        Dalam pendidikan AI sangat berperan dalam menyampaikan segala informasi dan pengelaman belajar yang akan membuat peoses belajar mengajar lebih efektif. Dengan menggunakan media-media pembelajaran yang dikembangkan dengan menggunakan prinsip-prinsip dan teknik-teknik artificial intelligence, pebelajar/learner dapat belajar tanpa harus berhadapan langsung berhadapan dengan guru, dan informasi dalam media-media pendidikan tentunya akan lebih mempermudah dan meringankan tugas guru/pendidik dalam mentransformasikan ilmu dan pengalaman belajar mereka terhadapa peserta didik. Jadi dapat pula dikatakan bahawa aplikasi kecerdasan buatan dalam bidang pendidikan yang bertindak sebagai partner bagi pelajar atau mahasiswa dalam mempelajari suatu bidang.

        AI dalam mengambil keputusan dalam bidang pendidikan bagi pimpinan lembaga pendidikan akan lebih mempermudah baginya karena data, basis dan pebetahuan informasi yang diperoleh akan lebih akurat dari pada secara manual. Kepala sekolah misalnya, akan lebih mudah dan lebih tepat dalam mengambil keputusan dan kebijakan untuk meningkatkat kualitas pembelajaran dari data yang diperoleh dari sistem AI

Berikut hal-hal yang bisa AI lakukan di bidang pendidikan:

Pembelajaran yang lebih cerdas
    Pembelajaran dalam sistem AI ini merupakan pembelajaran yang dipersonalisasi sehingga meningkatkan pengalaman belajar siswa. Pembelajaran AI dalam sistem individual ini menunjukkan bahwa hal ini dapat meningkatkan fokus siswa. Pasalnya, AI memiliki kemampuan untuk mengajar siswa secara individu dan mengenali area yang dibutuhkan untuk menemukan cara pengajaran yang tepat pada siswa melalui kecerdasan buatan tersebut.
Misalnya, jika teknologi ini tahu kamu tertarik dengan mobil balap, maka itu yang akan digunakan sebagai analogi atau contoh untuk memahami materi pelajaran.

Identifikasi bila siswa tak mengerti
      Kecerdasan AI bisa mengidentifikasi konsep seperti apa yang tidak dipahami oleh siswa. Sehingga nantinya AI bisa melakukan penyesuaian untuk menemukan cara baru dalam membantu pembelajaran siswa.
      Blackboard, salah satu alat di bidang pendidikan kini banyak digunakan perguruan tinggi. Sebuah platform online ini digunakan para profesor untuk merilis catatan, pekerjaan rumah, kuis, dan tes, dan memungkinkan siswa mengajukan pertanyaan dan tugas untuk penilaian. Alat ini juga bisa mengidentifikasi alasan di balik ketidak pahaman siswa.

Menilai tugas
        Manfaat lain dari program AI yaitu menilai kedua pilihan ganda dan pertanyaan dengan jawaban singkat. Ke depannya, AI juga bisa menilai pertanyaan esai. Oleh sebab itu, para guru tidak perlu lagi menghabiskan waktu mengerjakan tugas menilai setiap jam karena guru dapat lebih berkonsentrasi pada pengajaran dan interaksi satu lawan satu saja. Siswa juga mendapat hasil nilai langsung melalui AI. Mereka tak perlu menunggu waktu yang lama untuk mendapatkan nilai mereka. Siswa juga akan menuai keuntungan dari guru yang memiliki waktu tambahan untuk proses belajar dan mengajar.

          Saat ini di Indonesia contoh penerapan AI learning yakni belajar dengan menggunakan aplikasi QUIPPER dan ruang guru
Kebutuhan akan penggunaan kecerdasan buatan semakin meningkat seiring dengan besarnya manfaat yang didapatkan. Intelligent Tutoring System (ITS) merupakan satu tipe dari sistem kecerdasan buatan yang menangani masalah pembelajaran atau pelatihan. Keuntungan utama digunakannya ITS ini dibandingkan dengan metode yang sering digunakan adalah terciptanya suatu pembelajaran yang lebih efektif.
Dalam hal ini pengguna dituntut tidak hanya memberikan jawaban-jawaban dari permasalahan yang ada dengan benar saja, namun dengan efektif pula, sesuai dengan solusi optimal yang diciptakan oleh sistem kecerdasan buatan yang ada. Sehingga akan membantuuser di dalam pembelajaran masalah dengan sangat baik. ITS yang mana didalamnya memuat suatu metode dari sistem kecerdasan buatan akan menghasilkan suatu solusi yang optimal dari permasalahan yang ada. Berdasarakan solusi optimal tersebut, jawaban langkah-langkah yang telah diinputkan akan dibandingkan. Kemudian dengan menggunakan algoritma yang ada, akan dihasilkan suatu keluaran apakah jawaban yang diinputkan sudah efektif atau masih belum.
ITS juga memberikan suatu keluaran berupa evaluasi dari pembelajaran yang dilakukan oleh pengguna, dimana acuan yang didapatkan diperoleh pada saat pengguna melakukan uji coba. Konsep ITS tidak hanya berguna untuk menyelesaikan masalah saja namun juga berguna sebagai suatu sistem yang memberikan evaluasi atau saran kepada pengguna di dalam menyelesaikan masalah. Dalam proses pembelajaran, ITS dapat menerapkan berbagai macam metode pembelajaran yang ada. Pada implementasinya, pemilihan metode pembelajaran akan mempengaruhi jenis teknologi apa yang nantinya akan digunakan pada ITS tersebut.

ITS memiliki begitu banyak efektifitas bagi para pelajar, terutama dalam mengenal dan membiasakan diri dengan dunia teknologi dan alat pembelajaran yang modern. Tetapi sepertinya, metode ini belum cocok untuk diterapkan di Indonesia, karena ITS tentunya hanya dapat disediakan untuk sekolah-sekolah yang elit, yang sudah memiliki kemampuan untuk menyediakan sarana pembelajaran ini. Sedangkan seperti yang kita lihat, sekolah-sekolah di Indonesia belum seluruhnya memiliki kemampuan yang cukup dalam menyediakan sarana ini. Seharusnya, program ini sudah diberlakukan untuk seluruh sekolah di Indonesia agar seluruh pelajar di Indonesia tidak akan canggung lagi saat berhadapan dengan teknologi khususnya komputer di masa-masa yang akan datang. Sebenarnya ini adalah tanggungan pemerintah untuk memajukan pendidikan dan pengetahuan umum para generasi muda di Indonesia. Semoga di masa-masa yang akan datang, pemerintah sudah sanggup untuk menyediakan program ini untuk seluruh sekolah di Indonesia. 

C. MANFAAT AI 

     Segala sesuatu yang diciptakan di dunia ini tentu memiliki tujuan. Begitu pula dengan penciptaan berbagai kecerdasan buatan yang bisa anda temukan di sekitar anda saat ini. Tujuan dari penciptaan teknologi ini tentu saja tidak terlepas dari manfaat yang bisa didapatkan atau dirasakan oleh sang penciptanya dam juga untuk manusia yang ada di dunia ini.
Adapun beberapa manfaat yang bisa diberikan oleh kecerdasan buatan tersebut, antara lain:
  1. Memberikan penyederhanaan solusi untuk kasus-kasus yang kompleks dan berulang-ulang.
  2. Masyarakat awam non-pakar dapat memanfaatkan keahlian di dalam bidang tertentu tanpa kehadiran langsung seorang pakar.
  3. Meningkatkan produktivitas kerja, yaitu bertambah efisiensi pekerjaan tertentu serta hasil solusi kerja.
  4. Penghematan waktu dalam menyelesaikan masalah yang kompleks.
  5. Memungkinkan penggabungan berbagai bidang pengetahuan dari berbagai pakar untuk dikombinasikan.
  6. Pengetahuan dari seorang pakar dapat didokumentasikan tanpa ada batas waktu.
D. DAMPAK NEGATIF TREND AI

        Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) saat ini sudah mulai banyak digunakan dalam berbagai aplikasi digital. Penggunaannya tersebut tidak terlepas dari dampak yang bisa diberikannya.
Tidak bisa dipungkiri memang kalau AI memiliki peranan yang sangat penting, baik dan bermanfaat untuk manusia. Namun apakah penggunaan AI ini tidak memiliki dampak buruk? Jelas saja punya. Lantas, apa saja dampak buruknya? Mari kita lihat efek yang bisa ditimbulkan dari AI itu sendiri di bawah ini:
  • Sempitnya lapangan kerja.
  • Mentalitas teknologi, hal ini tercermin pada kepercayaan yang berlebihan pada alat (teknosentris), seolah-olah segala sesuatu dapat dipecahkan oleh teknologi dan sesuatu akan lebih meyakinkan kalau dilakukan dengan peralatan dan disertai angka-angka.
  • Krisis teknologi, berbagai krisis yang melanda dunia abad ini terutama disebabkan oleh perkembangan teknologi yang terlalu cepat, sehingga proses adaptasi dan integrasi tidak perlu dilakukan, akibatnya terhadap individu ialah technostress, penyakit urban serta penyakit peradaban.
  • Habisnya sumber daya.
  • Timbulnya cuaca extrim diakibatkan industri mesin merajalela.
  • Pencemaran lingkungan.
  • Lingkungan informasi juga akan menimbulkan problem karena pertumbuhannya yang sangat cepat, melampui daya serap dan daya olah manusia.
Untuk kedepannya nanti, seharusnya Artificial Intelligence lebih dapat mendeteksi mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, sehingga teknologi dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Sehingga tidak dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang melek teknologi namun merem akhlak.

Referensi :

https://pendidikan.id/main/forum/diskusi-pendidikan/artikel-berita/7851-ini-pentingnya-kecerdasan-buatan-di-bidang-pendidikan
https://duniapendidikantik.blogspot.com/2014/06/penerapan-kecerdasan-buatan-dalam-dunia.html
file:///C:/Users/USER/Downloads/Implementasi_Artificial_Intelligence_Dal.pdf
http://www.huntfacts.com/teknologi/mengenal-artificial-intelligence-trend-teknologi-pembangun-masa-depan/

Pertanyaan :

1. Bagaimana pendapat anda mengenai penggunaan AI dalam mendesain pembelajaran kimia? 
2. Menurut anda bagaimana cara mengatasi dampak negatif dari penerapan AI dalam pembelajaran, terutama kimia?

Kamis, 18 Oktober 2018

PROSES PEMBELAJARAN KIMIA ABAD 21

Pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mempersiapkan generasi abad 21 dimana kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang berkembang begitu cepat memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk pada proses belajar mengajar. Salah satu contoh kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi memiliki pengaruh terhadap proses pembelajaran ialah peserta didik diberi kesempatan dan dituntut untuk mampu mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi – khususnya komputer, sehingga peserta didik memiliki kemampuan dalam menggunakan teknologi pada proses pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai kecakapan berpikir dan belajar peserta didik.

Selain itu, sistem pembelajaran abad 21 merupakan suatu peralihan pembelajaran dimana kurikulum yang dikembangkan saat ini menuntut sekolah untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher-centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan dimana peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar. Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis, kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh peserta didik apabila pendidik mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.

Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik berbeda dengan pembelajaran yang berpusat pada pendidik, berikut karakter pembelajaran abad 21 yang sering disebut sebagai 4 C, yaitu:
1.   Communication
Pada karakter ini, peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Peserta didik diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah dari  pendidiknya.
Abad 21 adalah abad digital. Komunikasi dilakukan melewati batas wilayah negara dengan menggunakan perangkat teknologi yang semakin canggih. Internet sangat membantu manusia dalam berkomunikasi. Saat ini begitu banyak media sosial yang digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi. Melalui smartphone yang dimilikinya, dalam hitungan detik, manusia dapat dengan mudah terhubung ke seluruh dunia.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita dari dua orang atau lebih agar pesan yang dimaksud dapat dipahami. Sedangkan Wikipedia dinyatakan bahwa komunikasi adalah “suatu proses dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain”.
Komunikasi tidak lepas dari adanya interaksi antara dua pihak. Komunikasi memerlukan seni, harus tahu dengan siapa berkomunikasi, kapan waktu yang tepat untuk berkomunikasi, dan bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Komunikasi bisa dilakukan baik secara lisan, tulisan, atau melalui simbol yang dipahami oleh pihak-pihak yang berkomunikasi. Komunikasi dilakukan pada lingkungan yang beragam, mulai di rumah, sekolah, dan masyarakat. Komunikasi bisa menjadi sarana untuk semakin merekatkan hubungan antar manusia, tetapi sebaliknya bisa menjadi sumber masalah ketika terjadi miskomunikasi atau komunikasi kurang berjalan dengan baik. Penguasaan bahasa menjadi sangat penting dalam berkomunikasi. Komunikasi yang berjalan dengan baik tidak lepas dari adanya penguasaan bahasa yang baik antara komunikator dan komunikan.
Kegiatan pembelajaran merupakan sarana yang sangat strategis untuk melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, baik komunikasi antara siswa dengan guru, maupun komunikasi antarsesama siswa. Ketika siswa merespon penjelasan guru, bertanya, menjawab pertanyaan, atau menyampaikan pendapat, hal tersebut adalah merupakan sebuah komunikasi.
2.   Collaboration
Pada karakter ini, peserta didik menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan, beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya, menghormati perspektif berbeda. Peserta didik juga menjalankan tanggungjawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat, menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain, memaklumi kerancuan.
Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama. Hal ini juga untuk menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian, melalui kolaborasi akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antaranggota.
Sukses bukan hanya dimaknai sebagai sukses individu, tetapi juga sukses bersama, karena pada dasarnya manusia disamping sebagai seorang individu, juga makhluk sosial. Saat ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang mampu bekerja dalam tim, kurang mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, karena menurut hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skiil. Kolaborasi merupakan gambaran seseorang yang memiliki soft skill yang matang.
3.    Critical Thinking and Problem Solving
Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem. Peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta didik juga memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah.
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M), pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis projek.

Guru jangan risih atau merasa terganggu ketika ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang tinggi. Hal yang perlu dilakukan guru adalah memberikan kesempatan secara bebas dan bertanggung bertanggung jawab kepada setiap siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan membuat refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada level HOTS dan jawaban terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir kritis siswa.
4.     Creativity and Innovation
Pada karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain, bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
Guru perlu membuka ruang kepada siswa untuk mengembangkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap sekecil apapun peran atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk terus meningkatkan prestasinya. Tentu kita ingat dengan Pak Tino Sidin, yang mengisi acara menggambar atau melukis di TVRI sekian tahun silam. Beliau selalu berkata “bagus” terhadap apapun kondisi hasil karya anak-anak didiknya. Hal tersebut perlu dicontoh oleh guru-guru masa kini agar siswa merasa dihargai.
Peran guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar, karena pada dasarnya setiap siswa adalah unik. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Howard Gardner bahwa manusia memiliki kecerdasan majemuk. Ada delapan jenis kecerdasan majemuk, yaitu; (1) kecerdasan matematika-logika, (2) kecerdasan bahasa, (3) kecerdasan musikal, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan visual-spasial, (6) kecerdasan intrapersonal, (7) kecerdasan interpersonal, dan (8) kecerdasan naturalis.
Lalu bagaimana peran sekolah? Peranan sekolah dalam penerapan pembelajaran Abad 21 antara lain: a) Meningkatkan kebijakan & rencana sekolah untuk mengembangkan keterampilan baru; b) Mengembangkan arahan baru kurikulum; c) Melaksanakan strategi pengajaran yang baru dan relevan, dan d) Membentuk kemitraan sekolah di tingkat regional, nasional dan internasional
Pendidik  berperan sangat penting (Fuad Hasan), karena sebaik apa pun kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung mutu pendidik yang memenuhi syarat maka semuanya akan sia-sia. Sebaliknya, dengan pendidik yang bermutu maka kurikulum dan sistem yang tidak baik akan tertopang. Keberadaan pendidik bahkan tak tergantikan oleh siapapun atau apapun sekalipun dengan teknologi canggih. Alat dan media pendidikan, sarana prasarana, multimedia dan teknologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan sebagai rekan dalam proses pembelajaran.
Oleh karena itu, pendidik dan tenaga kependidikan perlu memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan, kompetensi yang terstandar serta mampu mendukung dan menyelenggarakan pendidikan secara profesional. Khususnya guru sangat menetukan kualitas output dan outcome yang dihasilkan oleh sekolah karena dialah yang merencanakan pembelajaran, menjalankan rencana pembelajaran yang telah dibuat sekaligus menilai pembelajaran yang telah dilakukan (Baker&Popham,2005:28).

Selain itu, menurut Nasution (2005:77) bahwa pendidik  merupakan orang yang paling bertanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang paling serasi agar terjadi proses belajar yang efektif. Dengan demikian, apabila pedidik melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik maka output yang dihasilkan akan baik. Sebaliknya, apabila pendidik tidak menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik maka output yang dihasilkan tidak akan berkualitas.
Hal senada juga dikemukakan oleh Yulianto (2006:1), pendidik merupakan salah satu faktor kunci yang ikut menentukan arah kualitas pendidikan. Peran pendidik tidak bisa dihilangkan begitu saja. Apalagi, pendidik bukan semata-mata hanya mengajar tetapi dia juga mendidik. Sebagai pengajar, pendidik tidak hanya berperan dalam menyampaikan ilmu tapi juga berkewajiban melakukan evaluasi, mengelola kelas, mengembangkan perangkat pembelajaran dll.
Selain itu, Samani (1996) mengemukakan empat prasyarat agar seorang pendidik dapat profesional. Masing-masing adalah kemampuan pendidik mengolah/menyiasati kurikulum, kemampuan pendidik mengaitkan materi kurikulum dengan Iingkungan, kemampuan pendidik memotivasi siswa untuk belajar sendiri dan kemampuan pendidik untuk mengintegrasikan berbagai bidang studi/mata pelajaran menjadi kesatuan konsep yang utuh.
Selanjutnya menurut Djojonegoro (1996) pendidik yang bermutu paling tidak memiliki empat kriteria utama, yaitu kemampuan profesional, upaya profesional, waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional dan kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya. Kemampuan profesional meliputi kemampuan intelegensi, sikap dan prestasi kerjanya. Upaya profesional adalah upaya seorang pendidik untuk mentransformasikan kemampuan profesional yang dimilikinya ke dalam tindakan mendidik dan mengajar secara nyata. Waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional menunjukkan intensitas waktu dari seorang pendidik yang dikonsentrasikan untuk tugas-tugas profesinya. Pendidik yang bermutu ialah mereka yang dapat membelajarkan siswa secara tuntas, benar dan berhasil. Untuk itu pendidik harus menguasai keahliannya, baik dalam disiplin ilmu pengetahuan maupun metodologi mengajarnya.



Bagaimana ciri guru Abad 21 ?  Menurut Ragwan Alaydrus, S.Psi setidaknya ada 7 Karakteristik Guru Abad 21
1. Life-long learner. Pembelajar seumur hidup. Guru perlu meng-upgrade terus pengetahuannya dengan banyak membaca serta berdiskusi dengan pengajar lain atau bertanya pada para ahli. Tak pernah ada kata puas dengan pengetahuan yang ada, karena zaman terus berubah dan guru wajib up to date agar dapat mendampingi siswa berdasarkan kebutuhan mereka.
2. Kreatif dan inovatif. Siswa yang kreatif lahir dari guru yang kreatif dan inovatif. Guru diharap mampu memanfaatkan variasi sumber belajar untuk menyusun kegiatan di dalam kelas.
3. Mengoptimalkan teknologi. Salah satu ciri dari model pembelajaran abad 21 adalah blended learning, gabungan antara metode tatap muka tradisional dan penggunaan digital dan online media. Pada pembelajaran abad 21, teknologi bukan sesuatu yang sifatnya additional, bahkan wajib.
4.   Reflektif. Guru yang reflektif adalah guru yang mampu menggunakan penilaian hasil belajar untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Guru yang reflektif mengetahui kapan strategi mengajarnya kurang optimal untuk membantu siswa mencapai keberhasilan belajar. Ada berapa guru yang tak pernah peka bahkan setelah mengajar bertahun-tahun bahwa pendekatannya tak cocok dengan gaya belajar siswa. Guru yang reflektif mampu mengoreksi pendekatannya agar cocok dengan kebutuhan siswa, bukan malah terus menyalahkan kemampuan siswa dalam menyerap pembelajaran
5.  Kolaboratif. Ini adalah salah satu keunikan pembelajaran abad 21. Guru dapat berkolaborasi dengan siswa dalam pembelajaran. Selalu ada mutual respect dan kehangatan sehingga pembelajaran akan lebih menyenangkan. Selain itu guru juga membangun kolaborasi dengan orang tua melalui komunikasi aktif dalam memantau perkembangan anak.
6.  Menerapkan student centered. Ini adalah salah satu kunci dalam pembelajaran kelas kekinian. Dalam hal ini, siswa memiliki peran aktif dalam pembelajaran sehingga guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Karenanya, dalam kelas abad 21 metode ceramah tak lagi populer untuk diterapkan karena lebih banyak mengandalkan komunikasi satu arah antara guru dan siswa.
7. Menerapkan pendekatan diferensiasi. Dalam menerapkan pendekatan ini, guru akan mendesain kelas berdasarkan gaya belajar siswa. pengelompokkan siswa di dalam kelas juga berdasarkan minat serta kemampuannya. Dalam melakukan penilaian guru menerapkan formative assessment dengan menilai siswa secara berkala berdasarkan performanya (tak hanya tes tulis). Tak hanya itu, guru bersama siswa berusaha untuk mengatur kelas agar menjadi lingkungan yang aman dan suportif untuk pembelajaran.
Implikasi dari perubahan paradigma arah pendidikan sendiri yaitu perubahan pembelajaran di kelas. Pembelajaran abad 21 memiliki beberapa ciri khas yang dijadikan prinsip. Prinsip-prinsip itu membawa arah perubahan pembelajaran: (1) dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa, (2) dari satu arah menuju interaktif, (3) dari isolasi menuju lingkungan jejaring, (4) dari pasif menuju aktif/ menyelidiki, (5) dari maya/ abstrak menuju konteks dunia nyata, (6) dari pembelajaran individu menuju pembelajaran berbasis tim, (7) dari luas menuju perilaku khas membudayakan hukum keterikatan, (8) dari stimulasi tunggal menuju stimulasi dari segala penjuru, (9) dari alat/media tunggal menuju multimedia, (10) dari hubungan satu arah menuju hubungan bersifat kooperatif, (11) dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan, (12) dari usaha sadar tunggal menuju usaha jamak, (13) dari satu ilmu dan teknologi bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak, (14) dari control terpusat menuju otonomi dan kepercayaan, (15) dari pemikiran faktual menuju kritis dan (16) dari penyempaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan. (Mukminan, 2014: 4,2014: 7;BSNP,2010: 48-50).
   Guru pada era abad 21 ini dituntut untuk selalu siap dengan perubahan yang terjadi. Baik perubahan di bidang  pendidikan, pembelajaran maupun masyarakat. Era Abad 21 menyebut guru bukan lagi sebuah pekerjaan, lebih dari itu guru adalah sebuah profesi. Guru dituntut untuk benar-benar menjadi pribadi yang professional. Menurut Tilaar (2002: 88) guru yang professional bukan sekedar sebagai alat transmisi kebudayaan tetapi mentransformasikan kebudayaan itu kea rah budaya yang dinamis yang menuntut penguasaan ilmu pengetahuan, produktivitas dan kretivitas yang tinggi serta kualitas karya yang dapat bersaing. Guru profesional tidak sekedar memiliki kecakapan dalam menguasai ilmu dan metode mengajar. Guru profesional perlu mengembangkan pola pikir yang dinamis. Perubahan pola pemikiran/ mindset guru merupakan dasar dari revolusi mental. Sungguh tidak adil jika guru menuntut siswa untuk dapat selalu berubah, sedangkan sang guru menutup diri terhadap perubahan.  Profesor Hariyono mencoba merumuskan karakteristik guru professional yang siap menghadapi perubahan abad 21 dan mempersiapkan generasi emas 2045, yakni sebagi berikut:
1. Guru professional melibatkan dimensi “cinta” dalam merealisasikan strategi pembelajarannya agar dapat membangkitkan harapan dan cita-cita siswanya.
2. Guru professional tidak hanya ingin sekedar menguasi bidangnya, namun sadar bahwa  tujuan pendidikan utama adalah memfasilitasi siswa agar dapat hidup mandiri di masa depan.
3. Guru Profesional tidak segan merubah atau mereorientasi tujuan pembelajaran dengan harapan siswa sadar tentang otonomi diri yang berimplikasi pada perannya sebagai individu dan tujuan hidupnya sebagi manusia.
4.   Guru profesional memiliki sikap respek dan etis terhadap dirinya maupun pada siswa. 
5. Guru Profesional memandang kompetensi pedagogik, professional, sosial dan pribadi sebagai kesatuan yang utuh, bukan secara terpisah-pisah.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dunia pendidikan memang terus berkembang dengan segala paradigmanya, dan guru harus terus berinovasi serta survive dalam mengembangkan pembelajaran bermakna. Siswa tidak hanya perlu diforsir terus menurus dalam keterampilan akademik saja, namun juga perlu belajar keterampilan abad 21. Hasil penelitian dari Levin dan Kylloen dalam Pei-Ling Tan (2015) menunjukkan keberhasilan kerja dipengaruhi oleh 80% keterampilan abad 21 dan  keterampilan akademik hanya  20%. Selain itu temuan penelitian Pei-Ling Tan  (2015)  sendiri di Singapura bahwa yang sangat sulit  diajak berubah mindsetnya bukan guru, akan tetapi siswa. Menurut Pei-Ling Tan,  perubahan kurikulum dan perubahan cara mengajar guru yang telah dilakukan tidak mempengaruhi secara signifikan perubahan mindset siswa. Guru juga perlu memiikirkan mindset siswa. Mindset siswa selama ini menyatakan apabila sekolah itu temapt persaingan kemampuan akademik.  Pendidikan adalah gerakan, seluruh elemen masyarakat bertanggung jawab untuk merubah paradigma ini. Sekolah harus bisa menjadi tempat mengembangkan sumber daya manusia yang dibutuhkan di masa depan.  Sekolah bukanlah sekedar tempat kompetisi mencari nilai akademuk saja.
Lalu bagaimana kompetensi siswa pada abad 21 ? Setidaknya ada empat yang harus dimiliki oleh generasi abad 21, yaitu: ways of thingking, ways of working, tools for working and skills for living in the word. Bagaimana seorang pendidik harus mendesain pembelajaran yang akan menghantarkan peserta didik memenuhi kebutuhan abad 21. Berikut kemampuan abad 21 yang harus dimiliki peserta didik, yaitu:
1.   Way of thinking, cara berfikir yaitu beberapa kemampuan berfikir yang harus dikuasai peserta didik untuk menghadapi dunia abad 21. Kemampuan berfikir tersebut diantaranya: kreatif, berfikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan pembelajar.
2. Ways of working. kemampuan bagaimana mereka harus bekerja. dengan dunia yang global dan dunia digital. beberapa kemampuan yang harus dikuasai peserta didik adalah communication and collaboration.  Generasi abad 21 harus mampu berkomunikasi dengan baik, dengan menggunakan berbagai metode dan strategi komunikasi. Juga harus mampu berkolaborasi dan bekerja sama dengan individu maupun komunitas dan jaringan. Jaringan komunikasi dan kerjasama ini memamfaatkan berbagai cara, metode dan strategi berbasis ICT. Bagaimana seseorang harus mampu bekerja secara bersama dengan kemampuan yang berbeda-beda.
3. Tools for working. Seseorang harus memiliki dan menguasai alat untuk bekerja. Penguasaan terhadap Information and communications technology (ICT) and information literacy merupakan sebuah keharusan. Tanpa ICT dan sumber informasi yang berbasis segala sumber akan sulit seseorang mengembangkan pekerjaannya.
4. Skills for living in the world. kemampuan untuk menjalani kehidupan di abad 21, yaitu: Citizenship, life and career, and personal and social responsibility. Bagaimana peserta didik harus hidup sebagai warga negara, kehidupan dan karir, dan tanggung jawab pribadi dan sosial.
Melalui pembelajaran abad 21, setidanya ada dua keterampilan inti yang harus dkembangkan oleh para para guru yakni: a) Kemampuan menggunakan pengetahuan matematika, Bahasa Inggris, Ilmu Pengetahuan, Kewarganegaraan dan lainnya untuk menjawab tantangan dunia nyata; dan b) Berpikir kritis dan menyelesaikan masalah, komunikasi dan kerjasama, kreatifitas, kemandirian, dan lainnya.

Referensi :
Alim, Bahri. (2009). Sistem Pembelajaran Abad 21 dengan “Project Based Learning (PBL)”.


BSNP.2010.Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI. Jakarta: Badan Standar Nasional                Pendidikan

Coleman, Hywel.2013.Tantangan Guru Abad ke-21.Makalah disajikan dalam Prosiding Seminar                Nasional Politik Pendidikan Nasional dalam Tantangan di Universitas negeri Yogyakarta,5 Oktober 2013. Dalam UNY database, (online), (www.staff.uny.ac.id)



Pertanyaan :
1.        Menurut anda bagaimana menghadapi tantangan dari proses pembelajaran yang diterapkan abad 21 ini di daerah kita?
2.       Pada zaman revolusi industri 4.0 atau abad 21 ini, menurut anda bagaimana pengaruh pembelajaran berbasis Student Center Learning di indonesia? Apakah sudah efektif? Jelaskan !
3.    Menurut anda bagaimana kemampuan berpikir yang mengarah kepada kemampuan berpikir tingkat tinggi  di era revolusi industri 4.0?  bagaimana keterkaitannya dengan pembelajaran berbasis multimedia?