Kamis, 13 September 2018

Komponen-Komponen Pokok Kurikulum

A. Kurikulum Sebagai Suatu Sistem

Sistem berasal dari bahasa Latin (systēma) dan bahasa Yunani (sustēma) adalah suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasimateriatau energi untuk mencapai suatu tujuan. Ada banyak pendapat tentang pengertian dan definisi sistem yang dijelaskan oleh beberapa ahli. Berikut pengertian dan definisi sistem menurut beberapa ahli:
  • Jogianto (2005:2), Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem ini menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan yang nyata, seperti tempat, benda dan orang-orang yang betul-betul ada dan terjadi.
  • Indrajit (2001:2), Sistem adalah kumpulan-kumpulan dari komponen-komponen yang memiliki unsur keterkaitan antara satu dengan lainnya.
  • Lani Sidharta (1995:9), Sistem adalah himpunan dari bagian-bagian yang saling berhubungan, yang secara bersama mencapai tujuan-tujuan yang sama.
  • Murdick, R. G (1991:27), Sistem adalah seperangkat elemen yang membentuk kumpulan atau prosedur-prosedur atau bagan-bagan pengolahan yang mencari suatu tujuan bagian atau tujuan bersama dengan mengoperasikan data dan/atau barang pada waktu rujukan tertentu untuk menghasilkan informasi dan/atau energi dan/atau barang.
  • Davis, G. B (1991:45), Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang beroperasi bersama-sama untuk menyelesaikan suatu sasaran.
Merujuk pada pengertian para ahli di atas mereka lebih menekankan pada kata-kata mencapai tujuan yang sama. Sehingga dapat saya simpulkan bahwa sistem merupakan suatu gabungan dari komponen dan elemen yang memiliki keterkaitan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan untuk menghasilkan tujuan atau sasaran yang sama.

Level Sistem, sistem sendiri memiliki beberapa level, diantaranya adalah sebagai berikut:
  • Analisis sistem, yaitu membuat analisis aliran kerja manajemen yang sedang berjalan
  • Spesifikasi kebutuhan sistem, yaitu melakukan perincian mengenai apa saja yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem dan membuat perencanaan yang berkaitan dengan proyek sistem
  • Perancangan sistem, yaitu membuat desain aliran kerja manajemen dan desain pemrograman yang diperlukan untuk pengembangan sistem informasi
  • Pengembangan sistem, yaitu tahap pengembangan sistem informasi dengan menulis program yang diperlukan
  • Pengujian sistem, yaitu melakukan pengujian terhadap sistem yang telah dibuat
  • Implementasi dan pemeliharaan sistem, yaitu menerapkan dan memelihara sistem yang telah dibuat
Kurikulum dapat dikatakan sebagai suatu sistem, mengapa? Karna kurikulum memiliki tujuan yang satu dan memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya seperti sistem. Sistem adalah suatu kesatuan sejumlah elemen (objek, manusia, kegiatan, informasi, dsb) yang terkait dalam proses atau struktur dan dianggap berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi dalam mencapai satu tujuan. Jika pengertian di atas dipadukan, maka sangat mungkin dapat dikatakan bahwa kurikulum merupakan suatu sistem, karena ada sejumlah komponen dalam terbentuknya kurikulum yang saling berkaitan dan terikat, dan memiliki tujuan yang utuh.  Jika suatu sistem kurikulum dapat di analogikan dengan organisme manusia yang memiliki susunan anatomi tubuh tertentu. Maka komponen-komponen atau anatomi dari sebuah sistem kurikulum yang utama adalah tujuan, isi materi, proses atau sistem penyampaian serta evaluasi.

B. Komponen dalam kurikulum

Bagan diatas ini menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oleh 4 komponen yaitu, komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi, pencapaian tujuan dan komponen evaluasi. Sebagai suatu sistem,setiap komponen harus saling berkaitan satu sama lain. Manakala salah satu komponen yang terbentuk sistem kurikulum terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen lainnya maka sistem kurikulum juga akan terganggu.

1. Komponen Tujuan

Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam sekala macro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Tujuan pendidikan memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan dapat diukur,yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi 4, yaitu : 
  • Tujuan Pendidikan Nasional (TPN) adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan. Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang. Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari sistem nilai pancasila dirumuskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehudupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 
  • Tujuan Institusional (TI) adalah tujuan yang harus dicapai oleh setip lembaga pendidikan. Tujuan institusional merupan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, misalnya standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan jejnjang pendidikan tinggi. 
  • Tujuan Kurikuler (TK) adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang setudi atau mata pelajaran. 
  • Tujuan Instruksional atau Tujuan Pembelajaran yakni tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran disuatu sekolah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran adalah tugas guru. 

2. Komponen Isi /Materi Pelajaran 

Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. 

3. Komponen Metode/Strategi 

Strategi dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Begitu pula dengan pendapat T. Rakjoni yang mengartikan strategi pembelajaran sebagai urutan umum perbuatan guru-siswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan Dari dua pengertian diatas ada dua hal yang pelu diamati, yaitu: 
  1. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian tindakan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan sebagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. 
  2. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. 
Metode adalah upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode juga digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dalam satu strategi pembelajaran digunakan beberapa metode. Strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjuk pada a plan of operation achieving something, sedangkan metode adalah a way in achieving something. 

Istilah lain yang juga memiliki kemiripan dengan strategi adalah pendekatan (approach). Sebenarnya pendekatan berbeda dengan strategi maupun metode. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. 

Roy Killer (1998), ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu 
  1. Pendekatan yang berpusat pada guru ( tescher centered approaches ) 
  2. Pendekatan yang berpusat pada siswa ( student centered approach )
Rowntree (1974), straregi pembelajaran dibagi atas: 
  1. Strategi Exposition dan Strategi Discovery Learning 
  2. Strategi Groups dan Individual Learning

4. Kompnen Evaluasi 

Tujuan evaluasi yang komprehensif dapat ditinjau dari tiga dimensi, yakni dimensi I (formatif-sumatif), dimensi II (proses-produk) dan dimensi III (operasi keseluruhan proses kurikulum atau hasil belajar siswa). Dengan adanya tiga dimensi itu, maka dapat digambarkan sebagai kubus. Selain itu dapat lagi kurikulum ditinjau dari segi historis, yakni bagaimanakah kurikulum sebelumnya yang dipandang oleh anteseden. Oleh sebab ketiga dimensi itu masing-masing mempunyai dua komponen, maka keseluruhan evaluasi terdiri dari enam komponen yang bertkaitan satu sama lainnya. 

a) Dimensi I 
  • Formatif : evaluasi dilakukan sepanjang pelaksanaan kurikulum. Data dikumpulkan dan dianalisis untuk menemukan masalah serta mengadakan perbaikan sedini mungkin. 
  • Sumatif : proses evaluasi dilakukan pada akhir jangka waktu tertentu, misalnya pada akhir semester, tahun pelajaran atau setelah lima tahun untuk mengetahui evektifitas kurikulum dengan menggunakan semua data yang dikumpulkan selama pelaksanaan dan akhir proses implementasi kurikulum 
b) Dimensi II 
  • Proses : yang dievaluasi ialah metode dan proses dalam pelaksanaan kurikulum. Tujuannya ialah untuk mengetahui metode dan proses yang digunakan dalam implementasi kurikulum. Metode apakah yang digunakan? Apakah tepat penggunaannya? Apakah berhasil baik atau tidak? Kesulitan apa yang dihadapi? 
  • Produk : yang dievaluasi ialah hasil-hasil yang nyata, yang dapat dilihat dari silabus, satuan pelajaran dan alat-alat pelajaran yang dihasilkan oleh guru dan hasil-hasil siswa berupa hasil test, karangan, termasuk tesis, makalah, dan sebagainya. 
c) Dimensi III 
  • Operasi : disini dievaluasi keseluruhan proses pengembangan kurikulum termasuk perencanaan, desain, implementasi, administrasi, pengawasan, pemantauan dan penilaiannya. Juga biaya, staf pengajar, penerimaan siswa, pendeknya seluruh operasi lembaga pendidikan itu 
  • Hasil belajar siswa : disini yang dievaluasi ialah hasil belajar siswa berkenaan dengan kurikulum yang harus dicapai, dinilai berdasarkan standar yang telah ditentukan dengan mempertimbangkan determinan kurikulum, misi lembaga pendidikan serta tuntutan dari pihak konsumen luar 

Sumber:
https://telelearning.weebly.com/blog/kurikulum-sebagai-sistem

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195705101985031-ENDANG_RUSYANI/Landasan_Pengembangan_Kurikulum.pdf


Masalah yang timbul :
1. Kurikulum di katakan sistem, karena ada sejumlah komponen dalam terbentuknya kurikulum yang saling berkaitan dan terikat, dan memiliki tujuan yang utuh.  kompenen kurikulum terdiri dari 4, Bagaimana jika salah satunya tidak ada? tetap di katakan sistem dalam komponen kurikulumkah ? 

2. banyak sekali metode-metode pembelajaran yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Bagaimana jika metode atau strategi yang sudah di buat tidak sesuai dengan hasil evaluasinya ? Antisipasi apa yang harus di lakukan jika strategi awal ternyata berbeda dengan keadaan lapangan ?

3. Pada perkembanganya, keberadaan alat-alat teknologi dan komunikasi seperti internet, dan smartphone sering menggantikan peran pendidik. bagaimana jika peran pendidik di gantikan oleh mesin?  bagaimana antisipasi bijak pakar pendidik dalam perkembangan tersebut ? 

20 komentar:

  1. Menjawab permasalahan pertama, jelas sudah pengertian dari Sistem itu sendiri adalah suatu kesatuan sejumlah elemen (objek, manusia, kegiatan, informasi, dsb) yang terkait dalam proses atau struktur dan dianggap berfungsi sebagai satu kesatuan organisasai dalam mencapai satu tujuan. Jika pemahaman sistem diatas dipergunakan melihat kurikulum itu ada sejumlah komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dipandang sistem terhadap kurikulum, artinya kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan. jikasalah satu nya tidak ada maka tidak dapat dikatakan bahwa suatu sistem dalam komponen kurikulum karna antara satu dengan yang lain sangat berkaitan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas jawaban saudari rina, namun apabila tetap di katakan sistem jika suatu komponen tersebut belum tercapai sepenuhnya atau dapat di katakan gagal dalam pengaplikasiian nya ?

      Hapus
  2. saya akan menjawab pertanyaan no.1, menurut saya komponen-komponen tersebut tidak bia dikatakan suatu sistem lagi jika salah satunya tidak ada atau tidak terpenuhi, misalnya, kan kurikulum dimulai dari menetapkan tujuan terlebih dahulu, setelah itu dicari tahu bagaimana keadaan dan situasi yang ada dilapangan,mata pelajaran apa yang ingin dipelajari, lalu metode apa yang cocok dipakai untuk mencapai tujuan tersebut, setelah tau metodenya nah di evaluasi hasil penerapannya sudah maksimal atua belumkah ataukah ada yang perlu diperbaiki. nah ke4 step ini merupakan sistem, kita tidak bisa loncat dari tujuan ke metode langsung jika kita tidak tahu bagaimana cara dan apa yang akan kita perbuat dengan tujuan yang telah dirumuskan ini jika kita tidak menentukan komponen isi dari kurikulum itu sendiri. saya rasa demikian

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan kak rini bahwa komponen-komponen tersebut tidak bia dikatakan suatu sistem lagi jika salah satunya tidak ada atau tidak terpenuhi tetapi di lapangan jarang sekali terjadi ketiadaan komponen ini. melainkan kurangnya / salah dalam penerapan dari kurikulum tsb Karena komponen yg sudah ada itu sangat berkaitan antara 1 dengan yang lainnya.

      Hapus
  3. Saya setuju dengan pendapat rini dan kk rini mengenai komponen kurikulum. Jika salah satu komponen tidak ada maka kurikulum itu tidak bisa terbentuk secara utuh. Atau tidak bisa di katakan suatu sistem.
    Karena komponen yg sudah ada itu sangat berkaitan antara 1 dengan yang lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas jawaban ang telah diberikan oleh saudari rini dan dian. saya sependapat bahwa tidak dapat di katakan suatu sistem lagi jika salah satunya tidak terpenuhi atau tidak utuh. seperti hal nya suatu siklus yang saling berkaitan satu sama lain.bagaimana peran sistem dalam pengembangan kurilkulum ini dengan lingkungan dan juga komponen lain yang terikat?

      Hapus
    2. peran sistem ini yakni menjadi komponen utama saat penyusunan dan mengembangkan serta perbaikan kurikulum menjadi lebih baik lagi dari sebelumnnya, dari komponen kurikulum yang bersiklus ini lah nanti bisa dilihat apa yang kurang cocok dan mana yang cocok, dilihat relevansinya dengan kebutuhan dan perkembangan iptek sehingga kurikulum yang dipakai dapat terlaksana dengan maksimal

      Hapus
  4. Menjawab pertanyaan nomor 2, cara antisipasinya yakni dengan melakukan evaluasi. Dalam komponen evaluasi terdapat tujuan evaluasi yang ditinjau menjadi tiga dimensi I, II dan III. Evaluasi dimensi I terbagi dua Formatif dan Sumatif. Yang bisa kita lakukan disini adalah melakukan evaluasi formatif yakni evaluasi dilakukan sepanjang pelaksanaan kurikulum. Data dikumpulkan dan dianalisis untuk menemukan masalah serta mengadakan perbaikan sedini mungkin. Sehingga kesimpulannya kita bisa melakukan evaluasi langsung karena kembali lagi prinsip kurikulum yang fleksibel dan praktis sehingga apabila keadaan lapangan beda dengan perencanaan kita maka bisa dilakukan penyesuaian terhadap kondisi lapangan yang sebenarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas jawaban yang sudah diberikan oleh saudari rifanny, benar adanya jika kita selaku pendidik dapat melihat dari evalusi yang sedang berjalan dan langsung menyesuaikan terhadap kondisi lapangan yang sebenarnya.bagaimana apabila permasalahn di lapangan yang di hadapi terlalu banyak dan saling berkaitan satu sam lain ? dan juga terkadang metode yang kita jalankan berbeda dengan cara yang ditempuh siswa selama ini dalam menguasai pembelajaran,dapatkan evaluasi akan sesuai dengan tujuan awal ?

      Hapus
  5. saya mencoba menjawab pertanyaan pertama dimana jika salah satu komponen hilang maka tidak bisa disebut sebagai sistem, tetapi di lapangan jarang sekali terjadi ketiadaan komponen ini. melainkan kurangnya / salah dalam penerapan dari kurikulum tsb

    BalasHapus
    Balasan
    1. dalam membuat perencanaan kita harus memiliki alternatif minimal 2, sehingga jika perencanaan 1 tidak terlaksana dengan baik kita bisa melaksanakan perencanaan yang kedua

      Hapus
    2. saya setuju dengan pendapat jika salah satunya tidak terlaksana, maka kita bisa menjalankan plan b , agar tidak terlalu terfokus dengan kesalahan yang pertama dan dapat memperbaiki lagi din plan b

      Hapus
  6. jika salah satu komponen tidak ada dalam suatu sistem kurikulum, akan terjadi ketimpangan dalam perjalanan kurikulum tersebut. serta tidak dapat dikatakan sebagai suatu sistem kurikulum tersebut.
    peran guru didalam kelas tidak tergantikan. sosok yg tetap harus ada dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan bang dhani yang menyatakan jika salah satu komponen tidak ada dalam suatu sistem kurikulum, akan terjadi ketimpangan dalam perjalanan kurikulum tersebut. Dapat saya contohkan bila dalam pelaksanaan kurikulum tidak terdapat komponen evaluasi setelah proses pembelajaran maka kita tidak dapat mengetahuin apakah siswa telah mencapai tuntutan kompetensinya sehingga kita juga tidak tahu apakah telah tercapai tujuan dari pembelajaran yang telah dibuat di awal, tujuan ini berkaitan dengan komponen tujuan dlaam pengembangan sistem kurikulum. Hal ini membuktikan bahwa dalam suatu sistem kurikulum semua komponen penyusunnya atau pengembangnya haruslah ada dan terlaksana

      Hapus
  7. saya akan menjawab pertanyaan nomor 2 yaitu 2. banyak sekali metode-metode pembelajaran yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Bagaimana jika metode atau strategi yang sudah di buat tidak sesuai dengan hasil evaluasinya ? Antisipasi apa yang harus di lakukan jika strategi awal ternyata berbeda dengan keadaan lapangan ?
    evaluasi dilakukan kan setelah dilakukan pembelajaran, jika dalam evaluasinya ditemukan kesalahan dalam strateginya, maka kita bisa belajar bahwa untuk karakter anak yang seperti itu dan tipe mteri yang sedemikian rupa kita tidak bisa menggunakan strategi dan metode itu contoh ceramah

    BalasHapus
    Balasan
    1. sependapat dengan tri bahwa untuk permasalahan kedua banyak sekali metode-metode pembelajaran yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Bagaimana jika metode atau strategi yang sudah di buat tidak sesuai dengan hasil evaluasinya ? Antisipasi apa yang harus di lakukan jika strategi awal ternyata berbeda dengan keadaan lapangan ?
      evaluasi dilakukan kan setelah dilakukan pembelajaran, jika dalam evaluasinya ditemukan kesalahan dalam strateginya, maka kita bisa belajar bahwa untuk karakter anak yang seperti itu dan tipe mteri yang sedemikian rupa kita tidak bisa menggunakan strategi dan metode itu contoh ceramah

      Hapus
  8. menurut saya permsalahan yang pertama, Saya setuju dengan pendapat rini mengenai komponen kurikulum. karena keempan komponen saling berkaitan dan merupakan siklus yang berulang. Jika salah satu komponen tidak ada maka kurikulum itu tidak bisa terbentuk secara utuh. Atau tidak bisa di katakan suatu sistem.

    BalasHapus
  9. banyak sekali metode-metode pembelajaran yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Bagaimana jika metode atau strategi yang sudah di buat tidak sesuai dengan hasil evaluasinya ? Antisipasi apa yang harus di lakukan jika strategi awal ternyata berbeda dengan keadaan lapangan ?
    menurut saya jika stategi yang telah digunakan setelah dievaluasi tidak dapat mencapai tujuan dan memecahkan masalah maka yang perlu kita lukukan adalah membuat stategi baru yang manah telah teruji dan dianalisis dapat memecahkan masalah pembelajaran dan juga dapat mencapai tujuan yang kita inginkan.

    BalasHapus
  10. Kurikulum di katakan sistem, karena ada sejumlah komponen dalam terbentuknya kurikulum yang saling berkaitan dan terikat, dan memiliki tujuan yang utuh. kompenen kurikulum terdiri dari 4, Bagaimana jika salah satunya tidak ada? tetap di katakan sistem dalam komponen kurikulumkah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika salah satunya tidak ada maka ia merupakan kurikulum yang tak lengkap, kenapa? karna ada bagian dalam dirinya yang kurang.

      Hapus